Pada awalnya, saya tidak mengenalnya. Hanya tau muka, hanya saling tau nama. Ketika awal masuk SMA, mengobrol pun tidak pernah. Dan ketika kelas 11, saya dipertemukan Allah dengannya. My first impression........ dia itu mukanya seperti Bobo-Ho. Gembil sekali. Saya suka wajahnya yang oriental, gendut, lucu, dan kadang terlihat seperti Shin Dong, personil Super Junior :D
Saya memang suka sekali pria yang berwajah oriental, ya itu juga karena kesukaan saya terhadap boyband Korea. Dan saya ingiiiiin sekali one day, saya punya pacar yang wajahnya seperti pria Korea. Biarpun, pria Korea sering dibilang gay karena cara berpakaiannya, saya nggak pernah peduli. Ya, memang tipe saya seperti itu kok.
Di semester pertama, kami hanya seperti teman biasa, saling mengobrol dsb. Ya, hanya seperti teman sekelas biasa yang lama - lama saling mengenal dengan baik. Semua berawal di pertengahan semester 2, tepatnya akhir Desember 2010. Sejak semester 2, kami rasa kami semakin dekat. Ngobrol, smsan, dsb.
Dan entah kenapa. Perasaan itu muncul begitu saja setelah satu peristiwa terjadi yang mengecewakan saya. Sudahlah, bukan itu yang mau saya bahas. Perasaan ini beda. Saya memang tipe wanita yang gampang jatuh cinta, tetapi ya bukan jatuh cinta, lebih tepatnya hanya "suka melihat". Ya, cuman seperti saya melihat pria ganteng lalu saya bilang "eh, itu ganteng". Sedangkan kali ini benar - benar beda.
Saya nggak melihat dia dari fisik, tapi dari hati. Percuma fisik ganteng, keren, tapi hatinya busuk. Dan kali ini, saya benar - benar jatuh cinta. Heheh :D Penantian saya cukup panjang, sekitar 3 bulanan. Sulit sekali, untuk membuat pria ini peka terhadap perasaan saya. Bukan sekali dua kali saya berusaha untuk mengungkapkan perasaan saya lewat berbagai cara.
Tapi, lagi - lagi pria ini tidak peka. Huh. Saya hampir menyerah dibuatnya. Untungnya, saya bukan orang yang gampang menyerah. Jadinya, ketika saya sudah di titik jenuh untuk menunggunya, saya biarkan saja sampai dia sadar. Dan cara saya berhasil. Berapa lama kemudian, kami semakin dekat dan dekat. Nggak perlu saya ceritakan ya, detailnya seperti apa.
Yang pasti, Jogja menjadi saksi bisu kami. Hehe, lebih tepatnya ketika kami studi lapangan di Jogja. Dan akhirnya saya jadian ! Menurut saya, kami jadian benar - benar dari hati. Kalo saya sih begitu, gatau deh dia gimana.
Minggu - minggu pertama saya masih agak bingung dengan sikapnya, tapi lama - lama saya terbiasa. Dia memang galak. Sedangkan saya sangat "menye". Sensitif sekali.
Dia memang bukan seperti remaja SMA biasa. Bukan pengendara kendaraan bermotor, bukan seperti teman - teman cowok disekolah saya yang mengantar ceweknya pulang naik motor. Bukan juga pengguna mobil. Tapi itu yang saya suka dari sosoknya. Sederhana. Dia hanya pria biasa yang mengandalkan fasilitas umum untuk pergi kemana - mana. Mandiri. Bukan remaja pria yang diberi fasilitas orangtuanya.
Saya nggak perlu pria yang bawa motor atau mobil. Terkadang saya suka kesal sendiri, melihat teman - teman wanita saya nggak suka sama cowok yang dipandangnya "nggak bermodal" apabila nggak bawa motor atau mobil. Huh. Terkesan matre. Gamau naik kendaraan umum, dengan alasan panaslah atau apalah. Klise.
Dia pecinta bola. Timnas Indonesia lebih tepatnya. Hari - hari saya bersama dia dipenuhi dengan impian - impiannya tentang Timnas Indonesia. Bagaimana dia sangat mencintai Indonesia, olahraga dsb.
Saya benar - benar mencintainya dari hati. Meskipun cinta itu klise sebenarnya, tapi ya saya memang cinta gimana dong ?
You're my kind of boy, man. My Lion. Best Listener. Everything.
Hope you'll be my husband. A father of our children.
Please, forever be mine, and I'll be forever yours.
Je t'aime mon cherie, Dimas Satrio Sudewo ♥
2 comments:
Hai, I'm blogwalking :)
This is surely sweet :)
Just read your comment..
i know it's too late.. but thanks ! :))
Post a Comment