Tuesday, March 27, 2012

Hujan di Celah Hati

Dulu, hujan sederas apapun di luar sana, takkan mampu meruntuhkan pertahanan hati yang berpura – pura kuat.
Justru, hujan itulah yang membuat kita semakin erat. Dibalik tirai, berlindung dalam dekapan yang sama.

Dulu, aku masih bisa menahan tangis yang sudah ada di pelupuk mata. 
Kini ? Aku bebas menangis untuk siapa saja. Tidak hanya untukmu. Tapi, terutama untukmu.

Pundak ini mencari sandarannya. Sebidang tanah hati dengan jiwa yang bersih dan sejuk. Itu milikmu. Hatimu.
Tangan ini. Tangan yang biasa menyentuhmu. Membelaimu dalam lelapmu. Dan tak jarang menjadi bunga mimpimu.

Hujan. Hujan. Hujan. Hujan untuk kita. Untuk hati – hati yang rapuh. Untuk hati – hati yang tersakiti. Untuk hati – hati yang selalu tulus dan ikhlas dalam mencintai orang yang seharusnya dipertimbangkan dahulu, mereka pantas dicintai atau tidak. Orang – orang yang harusnya mempertahankan hati yang rusak ini.

Terimakasih telah menjadi inspirasi dari tulisan – tulisanku selama ini. Semuanya tentangmu. Segalanya untukmu. Setiap kata tercipta tulus untukmu. Apakah kau suka ? Kurasa tidak. Janganlah berkomentar sejelek apapun tulisan – tulisanku ini. Semuanya ini murni dari hatiku. Hatiku yang sudah lama sekali ingin bicara denganmu, namun tak pernah diberi kesempatan.

Bulan – bulan yang telah lalu mungkin sudah terlalu lama untukmu. Mungkin merasa terkekang, karena aku mengunci hubunganmu dengan segala penjuru. Penjuru sahabat - sahabatmu, penjuru hobi-mu, dan mungkin juga penjuru cintamu yang dulu.

Sekarang kamu bebas. Namun ingatlah, kamu hanya berlari ke tempat yang sama. Hanya wujudnya saja yang berbeda. Aku akan tetap ada dimanapun kamu berada. Karena aku tumbuh bersamamu.


Aku. Aku ini yang mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Dahulu. Kini, kita sudah kembali ke masanya. Kembali menjadi aku dan kamu yang baru. Semoga kita senantiasa diberkahi di dalam setiap perjalanan kita.
Kamu telah menjadi bagian dari perjalanan hatiku menuju rumah hati yang tepat. Rumah hati yang semestinya kutinggali sejak dulu. Dan kamu, menyelinap di celah kecil di hatiku. Aku cinta kamu. Sampai aku menemukan rumah hatiku. Lagi.

Dari Audrey untuk yang disana yang selalu menginspirasi :)

Thursday, March 22, 2012

Senja, Aku Cinta

Senja, tidakkah kau melihatku ? Aku disini, di hatimu.
Tengoklah sebentar saja. Dekap aku sekali saja, senja.
Raga ini merindumu. Tangan ini ingin menjamahmu.
Jiwa mana lagi yang mampu tumbuh denganmu, kalau bukan aku ?
Apa lagi yang kau cari senja ? Keindahan semu ?

Aku tau aku tak seindah awan putih disana.
Namun, dia tak lebih baik dariku. Awan hitam ini masih sanggup mendekapmu lebih erat, senja. Tidakkah kau rasakan itu ?
Semburatmu melukiskan bagaimana kau sesungguhnya.
Air mukamu menunjukkannya. Tak sejuk. Tak indah.

Senja, ku mohon. Jika memang kau tak ingin, tolonglah aku.
Tolong bantu aku keluar dari labirin hatimu. Ini terlalu sulit untukku.
Kerap kali kucoba, namun tak bisa.
Senja, aku jatuh cinta padamu. Tolong.
Aku tak bisa menaklukkan pintu hatimu.


-Audrey

Sunday, March 18, 2012

Melangkah

Getarku kembali memanggilmu dalam tanya. Tanda tanya besar yang tak pernah membuatku jera untuk tetap berada di titik yang sama, hingga detik ini. Raga ini memang kosong. Tapi, hati ini masih berpenghuni. Namun, penghuninya sudah mati. 

Tangisku kembali jatuh ketika kepala ini memutar kisah lama. Kisah lalu yang semestinya kuhapus saja. Semudah itukah ? Tidak. Untuk menghilangkan bayanganmu saja rasanya sulit. 

Kosongnya hari diiringi ribuan tanya menyelinap di hati. Kapankah.... ? Aku rindu. Tangkaplah ini, dan kembalikan padaku. Lagi. 

"Jika itu bertolak belakang dengan keinginanmu, aku percaya selalu ada yang terbaik untuk kita." - Doa saya, 3 bulan yang lalu.

Ya Rabb, kuatkan hati ini jika memang semuanya harus terjadi. Bahagiakanlah kami dengan cara-Mu. Jika memang tidak dapat satu kembali, mungkin kami harus menjalaninya dengan pilihan-Mu. Pilihan terbaik-Mu. Amin.

Chicha Audriana




Friday, March 16, 2012

Pelukan Senja

Suatu hal yang diawali dengan kesalahan, sampai ujungnya nanti juga pasti akan salah. Kesalahan saya adalah menentukan tujuan tanpa melihat indah tidaknya tujuan itu nanti. Dan sekarang, saya sudah berada disini. Di ujung senja ini. 

Cerahnya pagi yang tergantikan oleh jingganya senja. Sapaan hangat dari indahnya pagi, berganti dengan pelukan kejutan dari senja.Mungkin senja tak bermaksud mengejutkan. Hanya saja senja tak tau bagaimana cara mengatakannya. Mungkin saja senja menyukainya, hanya tak tau bagaimana cara mencintainya.  

Senja ada diantara kita. Di antara dua makhluk Tuhan yang saling mengasihi. Entah siapa. Yang pasti, senja akan memberikannya pelukan. Penuh kejutan.