Sunday, August 8, 2010

Old Books in This Century

Hello readers, i wanna tell you about Pramoedya Ananta Toer in this post. He's my favorite writer. His books always inspirational for me. Like this one :



I got it from my Grandma's friend. She gotta go to Australia, and she gave this to my Grandma. But...you know, my Grandma can't read a novel anymore :D So, she gave this to me. And because of this book, I LOVE OLD BOOKS NOW. I think it's better than novel about love in this century. Semuanya bicara tentang cinta cinta cinta. Bosen gue. Semuanya monoton. Bukannya gue meng-underestimate kemampuan penulis di zaman sekarang. Tapi, temanya itu loh. Pada ga bosen apa novelnya isinya ttg cintaaaaaaaaaa terus, dan pasti ceritanya selalu klise. Pertama kenalan, lalu deket, deket, deket eh jadiaan, terus ada masalah, putus hhhhhhhhh enek gue.

Okay, get back to Pramoedya Ananta Toer with one of his novel, Panggil Aku Kartini Saja. Gue baru baca buku ini setengah. Karena gue rasa otak gue masih belum kuat untuk menerima kalimat demi kalimat dari buku ini.

But, over all kalo dari pandangan gue ya, buku ini bercerita tentang kehidupan Kartini zaman dulu. Dimana dia masih nggak boleh sekolah sama Ayahnya, R.M.A. Sosroningrat. Tapi, Kartini nggak bisa ngelawan, dia cuman bisa masak, sama mengerjakan tugas -tugas lainnya seabagai Ibu Rumah Tangga. Kok ngenes banget ya. Beda banget sama anak sekarang. Malah pada seneng kalo nggak sekolah. Ya, gue nggak munafik juga sih. Kadang-kadang gue males banget masuk sekolah. Ya tapi kan nggak sampe berenti sekolah gara-gara males -,-

Lalu Kartini mencoba memberontak Ayahnya. Kalo nggak salah, Kartini berusaha untuk membangun sekolah kecil di gedung dekat rumahnya. Eh, pas ketauan sama Ayahnya, beliau dikurung di gudang rumahnya.

Mungkin memang bahasa yang digunakan di novel ini masih terlalu berat buat remaja zaman sekarang. Kita harus baca satu kalimat, lalu dipikir - pikir dulu apa maksud dari kalimat itu. Untuk remaja zaman sekarang yang notabene malas berpikir dan melihat atau membaca tulisan yang panjang-panjang, pasti pada males baca buku kayak gini. Ini yang gue tangkap dari realita di teman - teman gue ya. Kalo gue bawa buku ini ke sekolah, pasti mereka nanya dulu :

Temen : "Buku apaan tuh Cha ? tebel banget."
Gue : "Novel lama."
Temen : "Yah males ah, tebel banget, entar gue ga ngerti bahasanya. pasti bahasanya yang berat gitu deh -,-"

Hhhhhhhhh gimana Indonesia mau maju kalo anak bangsanya aja masih begini. Masih lebih senang jalan - jalan di mall ketimbang nyambangin panti asuhan buat nyalurin bantuan. Masih lebih senang minta uang langsung ke nyokap bokap daripada nabung dulu.

Atau mau yang lebih gila lagi ? Nih liat !



Coba deh ya gue tanya remaja zaman sekarang. Ada yang tau nggak buku ini ? Pasti enggak. Pasti kalo tau juga cuman segelintir orang. Kalo udah tau ini buku apa, pasti pada males juga bacanya. Judulnya First, They Killed My Father. By Loung Ung. Dan lo tau apa... buku ini pake Bahasa Inggris tulisannya, hehe. Biarpun gue ga pinter - pinter banget bahasa inggrisnya, tapi entah kenapa gue ngerti kalo baca buku ini :D

This is a true story. Masa kecil yang kelam, dari seorang anak kecil di Kamboja, yang hidup di keluarga, yang ayahnya adalah seorang tentara. Dimana hidupnya selalu nomaden. Bener-bener nomaden. Rumahnya suka pindah - pindah, Ayahnya harus sering berpergian jauh karena dia tentara yang sebenarnya disiksa sam orang-orang dari negara mana gitu lupa. Ya intinya masa kecilnya Loung Ung ini benar-benar suram. Nggak kayak kita yang dibeliin mainan, sekolah, main sama temen-temen. Beda banget.

Tapi dia tetap bisa bertahan dalam keadaan keluarga yang seperti itu. Dan akhirnya.. dia menjadi orang sukses sekarang. Itu dia yang gue suka dari semangat orang-orang dulu. Semangatnya selalu ada buat mempertahankan sesuatu yang menurut orang lain, mustahil untuk dipertahanin.

Coba lihat remaja zaman sekarang. Sekolah aja udah males, apalagi buat hidup kayak gitu. Hshshssh ya itu dia yang masih gue bingung tentang jalan pikiran remaja zaman sekarang. Gue harap dengan gue nulis kayak gini, dan dibaca sama remaja Indonesia, khusunya Jakarta dulu deh, mata hati mereka bisa kebuka untuk lebih melihat semangat orang-orang dulu yang benar - benar gigih untuk mencapai sesuatu. Bukan tinggal nadah tangan sama orangtua.

Hearts you all

-Chicha Audriana


No comments: