Jangan tanya mengapa aku memilihmu. Dulu. Dan
menjadikannya kita.
Aku pun tak tau hingga kini. Hingga kita kembali
menjadi aku dan kamu.
Aku bersyukur. Tuhan memberikanku kesempatan
untuk mencintaimu.
Juga dicintaimu. Walau sejenak, namun aku cinta.
Hingga kini.
Tak peduli setipis apa itu setia dan tertipu. Yang
kutau ku cinta.
Cinta tak pernah butuh alasan mengapa ia memilih
dan dipilih. Begitu jugakah kita ?
Tak memilih. Namun dipilih Tuhan. Diberi rasa
cinta yang berlebih. Terutama aku.
Tak jarang ku
tanyakan pada Tuhan, mengapa tak dihapus saja yang berlebih ini.
“Nanti saja.” Ujarnya. Mungkin begitu.
Mencintaimu itu indah. Walau tidak pada
akhirnya. Namun, aku cinta.
Mematut diri bersamamu di depan asa yang membelenggu.
Menggapai mimpi, mendekap asa, menabung tawa,
merasakan sejuknya cinta.
Itu mimpi kita dulu. Berbanding terbalik dengan
keadaan sebenarnya.
Tersimpan sejuta kisah dalam kegamangan hati.
Masih berjalan di titik yang sama.
Tak lupa kuselipkan rindu mendalam di sana. Di
perjalanan kita.
Ratusan hari yang indah. Semestinya.
Perjalanan cinta yang nikmat. Seharusnya.
Sempat terhenti di titik ke lima. Lalu
tersambung kembali.
Dan benar – benar berhenti di titik ke sepuluh.
Kulepaskanmu dengan rindu yang masih tertinggal
di sana. Di rumput hatimu.
Kuikuti kata Tuhan. “Lepaskanlah, kalian akan
bahagia dengan pilihan-Ku, nanti.”
Meski harus berbohong pada diri sendiri. Aku tau
aku tak bisa. Aku hanya mencoba.
Kulambaikan tangan pada semua yang pernah kita
jalani.
Walau berat, namun aku bisa apa jika Tuhan sudah
berkata seperti ini ?
Tak bisa kuterima awalnya. Karena ku masih
cinta. Hingga kini. Hingga detik ini.
Audrey
March 23rd
2012
1 : 24 AM
1 comment:
permisi cha izin share ya ini bagus bgt
Post a Comment